I can't Pee in the Toilet, no Take-Off my Diapers!

 .....

My Little Boy, sudah usia 4 tahun pada saat itu tapi belum lepas popok. Dulu, sewaktu ia usia 3 tahun awal sudah pernah dilakukan toilet trainning, tapi tidak sampai tuntas karena pada saat itu anakku ini belum siap mental untuk menuju ke sana. Oke, kita tunda dulu sampai ia menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk lepas popok dan buang air di toilet. Menurut tahapan perkembangan Psikoseksual Freud (Lahey, 2012), toilet trainning sulit dilakukan untuk sebagian besar anak sebelum usia 24 bulan, karena anak belum siap secara maturasional untuk mempelajari tugas tersebut. Latihan penggunaan toilet idealnya dilakukan pada saat anak berusia 24 bulan sampai 36 bulan. Walaupun sebenarnya fase ini sudah di mulai sejak anak berusia 12 bulan, namun anak akan benar-benar siap saat memasuki usia 24 bulan. Fase ini disebut fase anal (1-3 tahun), di mana pusat kesenangan anak berada pada anus untuk mendorong keluar sesuatu yang ada di dalam tubuhnya.

"You want to pee, sayang" tanyaku lembut, "No, miss...not yet" jawabnya dengan mata yang mulai memerah. Seperti ada rasa ketakutan untuk mengeluarkan pee tidak dalam popok. "I'm here with you my boy" oke hari ini masih belum berhasil. 

Sebagai seorang terapis, aku memutar otakku mencari tahu bagaimana caranya agar anakku ini dapat pee di toilet tanpa ada rasa ketakutan. Ia tidak bisa mendorong sesuatu yang ada di dalam tubuhnya karena sudah terbiasa memakai popok. Setiap kali dibawa untuk pee di toilet, ia akan merasa cemas, menangis, dan menahan pee-nya. Bahkan ia sampai meminta ke orang tuanya agar tidak dibawa miss lagi ke toilet untuk pee saat di tempat terapi. "No pee in toilet anymore" pintanya ke ibunya.

Yes, i remember it...desensitisasi sistematis. Aku ingat dulu aku pernah mempelajari mengenai pengkondisian perilaku ini. Konsep ini dikemukakan oleh Joseph Wolpe (dalam Lahey, 2012). Sistematis desensitisasi telah terbukti manjur untuk mengatasi fobia binatang, kecemasan berbicara di depan umum, dan kecemasan sosial, juga untuk kasus-kasus ketakutan akan sesuatu atau mencoba hal baru. Cara kerjanya adalah dengan menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan repon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

Aku memulai pengkondisian ini dari yang paling sederhana. Kucetak gambar-gambar animasi anak kecil yang sedang pee di toilet. Lalu, kutempelin di pintu masuk kelas, di beberapa titik dinding kelas, dan titik yang memungkinkan anakku akan melihat ke arah tersebut. Kuajak ia ketika masuk ke dalam kelas, menyentuh gambar tersebut sambil berkata "no pampers anymore ya". Matanya menatap dalam gambar-gambar yang sudah tertempel di dinding kelas, seakan ia ada juga di dalam gambar tersebut. Beberapa gambar yang kutempel ada anak yang sedang melepas popoknya, anak yang duduk dicloset, dengan raut wajah yang gembira.

Selanjutnya, setelah ia mau menyentuh gambar-gambar tersebut, aku naikkan tingkat kesukarannya. "Today, we take off your diapers, boleh sayang?" setiap tindakan yang kulakukan dan berhubungan dengan hak privasi anak, akan selalu kutanyakan izinnya terlebih dahulu. "Boleh" jawab anakku dengan wajah sedih. Seakan-akan popok adalah sesuatu yang tidak bisa terpisah darinya. Kusimpan popoknya ke dalam tasnya. "Later we put again, sayang" dan kami mulai belajar di kelas. Mulai dari itu, kami membuat kesepakatan untuk tidak pakai popok lagi saat sudah sampai di tempat terapi.

Di sela-sela belajar, kujelaskan mengapa ia sudah harus say bye-bye untuk popoknya. Kujelaskan menggunakan bahasa yang sederhana agar ia dapat memahaminya. Setiap pertemuan, kami lakukan hal itu berulang kali. Beberapa waktu berlalu, ia mulai terbiasa tanpa popok selama berada di tempat terapi. Bersyukurnya, orang tuanya juga sangat mendukung proses training ini tanpa menyerah.

Kemudian, setiap 30 menit sekali, kuajak anakku untuk pergi ke toilet. Namun, sebelumnya anakku sudah minum cukup banyak air putih untuk membuatnya ingin buang air kecil. Sampai di toilet, kubantu ia melepaskan celananya dan kami harus siap untuk belajar pee. Kutunggu pee-nya keluar, sambil mengeluarkan cue sound seperti "sshhhh" menirukan suara air seni yang keluar. Tapi belum juga keluar, ia mulai cemas karena pee tidak kunjung keluar padahal ia sudah ingin pee. Kucoba untuk sambil aliri air ke arah genitalnya untuk membuatnya lebih tenang. Kami terus mencobanya berulang kali di setiap sesi pertemuan terapi.

Kadang kami hanya berpura-pura saja kalau pee sudah keluar lalu menekan flush dan mencuci tangan. Sampai anakku benar-benar tidak merasa cemas lagi untuk pee di toilet. Selain itu, untuk menyeimbangkan proses toilet training tersebut, kami juga belajar tentang gender (ada laki-laki dan perempuan) dan latihan kemandirian seperti melepas-memakai celana sendiri serta latihan berdiri dengan satu kaki (airplane position) untuk keseimbangan saat memakai celana.

Hampir 2 bulan lebih cukup dramatis, ia menangis, bahkan hampir menyerah untuk training toilet ini. Sampai disatu pertemuan terapi, it's a first time he can pee in toilet. WOW....i'm speecheless, pee-nya keluar dan kami bersorak di dalam toilet. Kami tekan flush dan cuci tangan, lalu kupeluk anakku sangat terharu. "Finally boy, you're Brave sayang" kataku sambil memeluknya bangga. Kulihat senyum lebar di wajahnya, ia sangat senang sekali lalu berkata "later tell mama".

Selesai sesi pertemuan terapi, kusampaikan keberhasilan anaknya dalam toilet training. Orang tuanya sangat senang mendengarkan hal tersebut. Namun, aku juga memberitahu bahwa kita tetap harus konsisten dalam training ini dan terus mendukungnya. Aku senang sekali akhirnya drama toilet training telah terlewati, good job!

Komentar

Postingan Populer