Ulangi setelah aku

"Berwarna? Kuning!"

"Kuning yo..."

"Kuning, kuning, kuning yo......"

Begitulah anakku yang satu ini memaksaku untuk selalu mengulangi perkataannya. Ia juga suka mengulang perkataan lawan bicara (echolalia) dan ingin juga orang lain mengikuti atau mengulangi apa yang ia katakan. Ia tidak pernah puas untuk berhenti meminta orang lain mengikuti perkataannya, bahkan jika sudah diikuti pun, maka ia akan meminta untuk mengikuti kata yang lain.

"Police car berwarna?" tanyanya lagi, "putih, biru, abu-abu" jawabnya sendiri. Aku menutup mulutku dengan tangan dan membuatnya semakin lebih kencang berteriak. Jika aku bisa masuk dalam pikirannya, mungkin saat itu ia berkata dalam hatinya, "Mengapa miss tidak mengulangi perkataanku? sedangkan miss memintaku untuk mengulangi perkataan miss". Ya, betul...anakku yang sangat pintar ini belum mengerti konsep komunikasi dua arah atau yang biasa disebut dalam verbal operant sebagai kemampuan Intraverbal.

Sebelumnya, kujelaskan sedikit mengenai anakku ini. Kusebut dia anak yang pintar, karena di usia 4 tahun ia sudah mampu membaca teks dalam bahasa Indonesia juga bahasa Inggris. Ia juga mampu menulis kalimat yang kita diktekan untuknya, walaupun tulisannya belum cukup rapi. Ia mempunyai daya ingat yang baik, cukup mandiri dan bertanggung jawab akan benda kepemilikannya. Dapat kukatakan secara kognitif, anakku ini cukup baik, namun pada aspek interaksi sosial dan komunikasi masih perlu diintervensi lagi.

Waktu pertama kali bertemu denganku, ia sangat ekolalia dan suka memasukkan benda yang bukan makanan ke dalam mulutnya. Aku melihat ada masalah pada bagian oralnya yang membuat pola interaksi dan perilakunya menjadi seperti tersebut. Kemampuan bicara anakku itu juga masih terbatas, berada pada tahap peralihan holophrase (1-2 kata) ke syntax (3-4 kata) namun belum spontan. Periode kalimat satu kata (holophrase) yaitu kemampuan anak untuk membuat kalimat yang hanya terdiri dari satu kata yang mengandung pengertian secara menyeluruh dalam suatu pembicaraan (Syahfitri & Rachmani, 2015). Misal: anak mengatakan ”ibu”. Hal ini dapat berarti: ”ibu tolong saya”, ”itu ibu”, ”ibu ke sini”.

Anakku ini memiliki dua terapis yang mengajarinya secara bergantian. Setiap kali ia mau berangkat ke tempat terapi, ia akan bertanya kepada ibunya dengan pertanyaan yang selalu sama, "Lebih suka miss A atau miss B" ia menyebut nama dua terapisnya. Lalu, ia jawab sendiri, "Lebih suka miss A", kemudian meminta ibunya untuk mengulangi perkataannya tersebut. Sebenarnya maksud anakku tersebut adalah "Hari ini aku terapi dengan Miss A bukan dengan Miss B". Ia mengartikan kata "lebih suka" untuk mengatakan "hari ini bersama Miss A/Miss B". Kalau hari ini ia bersama dengan Miss A terapi, maka ia akan lebih suka dengan miss A. Jikalau hari ini ia akan terapi dengan Miss B, maka hari ini ia akan lebih suka dengan miss B. Bersyukurnya, anakku ini memiliki ibu yang sangat memahami dirinya dan menerima keadaannya. Seorang ibu yang mau diajak untuk bertukar pikiran, berdiskusi, dan melakukan hal yang sama ketika di rumah, sehingga apa yang dilakukan di tempat terapi sejalan dengan yang didapat anak ketika berada di rumah.

Ketika sampai di tempat terapi, ia juga biasanya akan mengejutkan terapis dengan mengatakan "kucing atau gorilla". Terapis harus menjawab dan memilih dari opsi pilihan yang diberikannya. Oke, aku pilih jadi kucing, "kucing!" jawabku sambil melompat dan tersenyum. Lalu anakku tertawa melihatku, kemudian berkata "gorilla". Oke, kali ini aku harus mengikuti kemauannya dengan juga mengatakan "gorilla"

"Ada apa dengan gorilla sayang?" tanyaku penasaran karena ia selalu mengucapkan dan mengulangi kata tersebut.

"Gorilla berwarna?" ia balik bertanya dan tidak menjawab pertanyaanku. "Hitam" jawabnya dengan spontan. Ya betul, ia sering sekali bertanya dan langsung menjawab sendiri pertanyaannya lalu meminta orang lain untuk mengulanginya. 

"Iya hitam yeyeeeeee" pujiku karena ia melabel warna gorilla dengan tepat.

Ibunya menjelaskan padaku, di rumah anakku ini memiliki boneka gorilla berwarna hitam yang menjadi temannya bermain. Ia mengatakan Gorilla kepadaku untuk menjelaskan bahwa ia memiliki boneka gorilla hitam di rumah. Sering sekali ia selalu menggunakan satu kata untuk mendefinisikan apa yang ia maksud. 

Ia juga sangat suka menyanyikan sebuah lagu anak-anak dalam bahasa Inggris yang judulnya "Hickory, dickory, dock". Dulu ia sempat terobsesi dengan kalender. Setiap kali melihat kalender ia akan menyanyikan sebuah lagu dengan nada yang ia ciptakan sendiri, "senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, minggu". Entah mengapa hari minggu diulang dua kali oleh anaknya.


Komentar

Postingan Populer