Little Night Owl: "Go! Sleep Now"
Pernah suatu kali, salah satu orangtua anak terapiku berkonsultasi denganku terkait jam tidur anaknya yang berantakkan. Sebenarnya bukan hanya satu orangtua saja di centre tempat aku bekerja yang sering mengeluhkan masalah ini. Hampir semua orangtua yang memiliki anak dengan gangguan neurodivergen mengeluhkan masalah ini.
"Miss, ampunlah tadi malam anakku lembur sepanjang malam" keluh seorang mama dengan anak neurodivergen. "Jam berapa baru tidur ma?" tanyaku. "Sampai subuh miss baru tidur, makanya hari ini gak sekolah...udah kesiangan bangunnya" mama sambil geleng-geleng kepala. Lalu, kutanya apa yang terjadi disepanjang hari kemarin. Mama tersebut bercerita kalau kemarin anaknya kecolongan makan roti coklat di acara ulang tahun temannya di sekolah. "Hanya sedikit saja loh miss, dua potongan kecil dan ada minum susu kotak juga di acara tersebut" tambahnya.
Mama lanjut bercerita proyek anaknya tadi malam. Sepanjang malam anaknya berubah menjadi "Little Night Owl", seperti burung hantu yang super duper sibuk dan annoying. Semua barang-barang dibongkari, juga menangis berkali-kali, marah-marah tanpa sebab dan semakin energik untuk melakukan banyak kegiatan. Alhasil ibunya pun tidak bisa tidur karena harus memantau apa yang dikerjakan anaknya di tengah malam tersebut.
Setelah mendengar cerita tersebut, kujelaskan secara biopsikologi apa yang terjadi saat anak neurodivergen mengkonsumsi jenis protein dalam bentuk Gluten dan Kasein. Gluten adalah jenis protein yang terdapat di dalam gandum dan jelai, sedangkan Kasein adalah jenis protein yang terdapat pada dadih seperti susu sapi, krim susu, dan yougurt. Pada anak yang mengalami gangguan neurodivergen, mereka mengalami suatu kondisi kelainan yang disebut Phenylketonuria (PKU). Suatu kelainan metabolis turunan dalam proses metabolisme protein. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gen yang tidak sempurna, sehingga hati tidak mampu mengubah fenilalanin menjadi tirosin. Fenilalanin adalah salah satu jenis asam amino yang berperan dalam pembentukan hormon dopamin yang berfungsi untuk memperbaiki suasana hati dan meredakan kecemasan. Sedangkan tirosin adalah asam amino non-esensial yang berfungsi untuk meningkatkan mood, dan juga fungsi kognitif serta konsentrasi. Gagalnya proses metabolisme protein tersebut membuat fenilalanin menumpuk di dalam darah, yang akhirnya mencapai otak dan mengakibatkan masalah pada sistem saraf (Kessick, 2009).
Selain itu, apabila anak neurodivergen mengkonsumsi gula sederhana (monosakarida: glukosa, fruktosa, dan galaktosa) akan menyebabkan kadar gula yang tinggi dalam darah. Reaksi pankreas terhadap banjirnya gula sederhana ini adalah melepaskan insulin untuk mencegah kadar gula darah meningkat terlalu tajam. Sebab, kadar gula darah baru akan menurun dratis setelah sekitar tiga jam dalam sistem pencernaan. Pada kondisi ini, tubuh akan melepaskan gelombang adrenalin yaitu hormon yang digunakan untuk menghadapi situasi berbahaya atau ketika sedang stres. Hal ini yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah marah dan energi melonjak drastis (Kessick, 2009).
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan adanya kelainan metabolisme protein dan gangguan sistem pencernaan pada anak neurodivergen, membuat energi dan emosional mereka akan semakin meningkat setelah mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung protein dan karbohidrat yang berlebihan.
So, apa yang harus dilakukan mama? jawabannya konsultasi dengan ahli gizi dan juga dokter tumbuh kembang anak. Selain itu, juga dapat melakukan diet GFCF (gluten free casein free) dan diet karbohidrat. Kemudian, ibu dari anak terapiku tersebut menganggukkan kepalanya dan mulai mencari tahu jenis makanan dan minuman yang boleh dan tidak boleh anak spesialnya konsumsi.
Komentar
Posting Komentar