No! for all things Miss
Hari ini, aku dapat anak baru lagi, usianya 3 tahun. Sejak pertama kali melihatnya pada waktu lalu, aku langsung jatuh hati untuk menterapinya. Kenapa? karena rata-rata anak-anak terapiku sudah pada besar dan sekarang aku dapat anak yang kecil-kecil lagi. Dulu juga anak terapiku mulai kuterapi dari usia mereka 2/3 tahun, dan sekarang sudah beranjak besar ada yang sudah usia 4 tahun, 5 tahun, dan bahkan sudah masuk Elementary School. Sore tadi adalah pertama kalinya aku memegang anak tersebut untuk diterapi. Dugaanku, karena badannya sangat mungil, maka akan gampang untuk kami berkegiatan. Tapi...apa yang terjadi? menurutmu dugaanku benar atau tidak ya? Heheheeeee.....
Kumulai sesi terapi dengan berdoa dengan kalimat doa yang sederhana. Lalu, kuambil alat terapi berupa brush untuk melakukan kegiatan Wilbarger Protocol, dan oh perang di antara kami berdua akan dimulai. Ia menolak tangannya untuk dibrush. Ia berusaha untuk melarikan diri dari pegangan tanganku sambil menangis tapi air matanya tidak ada keluar HAHAHAA (sebuah tricky yang sudah biasa terjadi disini).
Aku pikir, perlu untuk aku mengambil hati anak ini agar bonding di antara kami dapat, sehingga ia mau untuk menuruti perintah yang aku instruksikan. Ku ajak ia untuk bermain di atas wooden gym, bermain bola basket (aku menggendongnya agar ia berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring) dan mobil-mobilan. Kuajak juga ia naik ke atas scooter lalu ku dorong mengitari ruang sensori integrasi. Lalu kami melompat-lompat di atas trampoline sambil berpegangan tangan. Oke, sekarang ia mau memegang tanganku dan berhenti menangis.
Lalu, aku ajak ia kembali untuk berkegiatan, kami meniti di atas papan titian dan lagi, ia menangis huhuuuuu. Aku naikkan ia di atas gym ball, ia menangis juga. Ku ajak ia untuk merangkak, ia merapatkan telapak tangannya dan menangis. Sesaat aku menghentikan kegiatan, ia berhenti menangis. Kemudian, kuambil matras dan kugulung ia di dalam matras tersebut dan tebak apa? Ya, dia menangis lagi. Setelah itu, kami turun untuk masuk ke dalam kelas. Kuambil permainan kancing dan botol. Kuberikan instruksi untuk mengambil kancing dan memasukkannya ke dalam botol, 'ambil' - 'Masukkan' dan apa yang terjadi, ia menangis lagi. Ia berusaha untuk keluar dari tempat duduknya yang sudah aku blocking. Ia naik ke atas meja lalu kududukkan lagi di kursinya. Tapi, ia mencoba cara lain dengan merosot ke dalam kolong meja dan keluar dari bawah sana untuk menghindari tugas memasukkan kancing ke dalam botol. Sudah hampir 60 menit, semua kegiatan yang kuberikan ditolak mentah-mentah oleh anakku ini. Sebagai terapis tidak boleh menyerah
Observasiku pada anak ini, rentang ketahanan belajarnya sangat singkat sekali dan selalu menghindari tugas yang diberikan. Ia juga tidak meniru suaraku ketika aku memintanya untuk mengulangi ucapanku. Ia hanya asik sendiri dengan benda yang ada ditangannya.
Hampir semua anak-anak yang sudah aku terapi, sudah banyak mengalami perkembangan yang signifikan. Mungkinkah anak ini juga akan mengalami perkembangan yang sama dengan anak-anakku yang lain?
Ini adalah sebuah tantangan bagi seorang terapis, ketika anak baru datang dan sama sekali belum mendapatkan intervensi. Syukurnya, Bapak Ibunya peduli dengan kondisi anaknya dan segera dibawa ke tempat terapi untuk diintervensi.
Komentar
Posting Komentar